Telkom Papua Jalur Selatan Kembali Normal

Jayapura, 9/3 (Antara) – Manajemen PT Telkom (Persero) Witel Papua menyatakan perbaikan “Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS)” atau jaringan kabel optik bawah laut di jalur selatan sudah selesai dan kini layanan komunikasi di Timika dan Merauke kembali normal.

Vice President Corporate Communication Telkom Arif Prabowo, di Jakarta, Jumat, menjelaskan proses perbaikan SMPCS di jalur selatan Papua selesai pada 8 Maret 2018 pukul 06.20 WIB.

“Setelah kami tuntaskan perbaikan kabel laut Timika-Merauke, infrastruktur backbone telekomunikasi TelkomGroup untuk wilayah Timika, Nabire, Kaimana, dan Merauke telah kembali normal, sehingga layanan dapat berjalan maksimal,” ujarnya.

Menurut dia, Telkom kini telah mengalihkan layanan TelkomGroup menggunakan sistem kabel laut serat optik yang telah pulih, setelah sebelumnya layanan telekomunikasi ditunjang melalui sistem satelit.

Sebelumnya, akses telekomunikasi untuk wilayah Timika, Kabupaten Nabire, Kaimana, dan Merauke sempat mengalami penurunan kualitas akibat gangguan kabel laut jalur Timika-Merauke pada 8 Februari 2018.

Proses pemulihan infrastruktur kabel laut tersebut berlangsung selama 25 hari (11 Februari-8 Maret 2018) atau lebih cepat tiga hari dari jadwal semula yang diperkirakan yaitu selama 28 hari.

General Manager Telkom Witel Papua Lonely Baringin Mangaranap sempat menjelaskan proses perbaikan bisa lebih cepat kalau tidak ada dua titik tambahan kabel yang putus di sekitar laut Arafura.

Menurut dia, di perairan tersebut cukup rawan karena banyak nelayan penangkap cumi-cumi. Bahkan melalui radar, diketahui ada lebih dari 2.000 kapal nelayan di kawasan tersebut.

“Putusnya kabel optik dipastikan karena dipotong, jadi mungkin awalnya nelayan lempar jangkar dan tersangkut di SMPCS, dan karena jangkar tidak bisa diangkat akhirnya mereka turun dan memotong SMPCS, itu kecurigaan kami,” kata dia.

Lonely mengaku Telkom tidak sepenuhnya menyalahkan para nelayan karena ada kemungkinan SMPCS mengalami pergeserah atau justru terangkat dari posisi tanamnya. Menurut dia, kondisi di dasar laut Merauke agak unik. Posisi tanam SMPCS dilakukan 1,5 meter dari dasar laut dan dinilai cukup aman. Tapi mungkin karena arus bawah laut di lokasi tersebut kencang dan berlumpur, sehingga SMPCS bergeser bahkan seperti mengapung.

“Secara teknis, jangkar seberat apa pun dari kapal besar saat dilepas maksimal tertanam 50 cm di dasar laut, padahal SMPCS ditanam 1,5 meter, tapi kenapa SMPCS muncul di permukaan,” katanya pula. (Budisantoso Budiman)