Upaya Penanggulangan Bencana Longsor

Jakarta, (Antara) – Salah satu bencana yang kerap terjadi pada musim hujan adalah tanah longsor, selain banjir dan angin puting beliung.

Longsor merupakan bencana yang paling banyak menyebabkan korban jiwa. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama 2010 hingga 2017 terdapat 3.633 kejadian tanah longsor di Indonesia dengan korban meninggal dunia dan hilang mencapai 1.615 jiwa.

Sedangkan sepanjang Januari hingga Maret 2018, terdapat 137 kejadian longsor dengan jumlah korban meninggal dunia dan hilang mencapai 45 jiwa. Dengan begitu, rata-rata korban meninggal dunia dan hilang akibat longsor mencapai 220 jiwa per tahun.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan terdapat 274 kabupaten/kota tinggal di daerah rawan longsor sedang hingga tinggi.

Daerah rawan longsor di Indonesia tersebar di sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Seharusnya, daerah-daerah yang rawan longsor itu tidak boleh untuk permukiman. Tata ruang dan implementasinya menjadi kunci untuk mengatasi longsor.

“Bila dibiarkan saja maka longsor menjadi bom waktu yang selalu terjadi saat musim hujan,” katanya.

Di daerah rawan longsor itu tinggal sekitar 40,9 juta jiwa atau mencapai 17,2 persen penduduk nasional. Mereka tinggal di pegunungan, perbukitan dan lereng-lereng yang curam. Dari 40, 9 juta jiwa itu kemampuan untuk memitigasi bencana masih rendah karena terdapat 4,28 juta jiwa balita, 323.000 jiwa penyandang disabilitas dan 3,2 juta jiwa lanjut usia.

“Musim penghujan seperti saat ini longsor sering terjadi. Sering longsornya kecil, tetapi karena di bawah terdapat rumah maka terjadi korban jiwa,” katanya.

Sutopo mengatakan tiga provinsi dengan kejadian longsor terbanyak adalah Jawa Tengah, Jawa Barat dan jawa Timur. Sedangkan tiga kabupaten/kota dengan kejadian longsor terbanyak adalah Bogor, Wonogiri dan Cilacap.

Longsor merupakan bencana dengan ketidakpastian kapan akan terjadi karena sama sekali tidak bisa diperkirakan karena dapat terjadi mendadak. Hampir setiap kejadian alam pasti terdapat tanda-tanda sebelum kejadian.

Meskipun sudah terdapat retakan tanah sebagai salah satu pertanda akan terjadi longsor, tetapi tetap tidak bisa diperkirakan kapan akan terjadi. Di beberapa tempat, fenomena retakan tanah sudah berlangsung lama. Masyarakat sudah mengungsi untuk menghindari longsor, tetapi akhirnya kembali ke rumahnya karena di situ penghasilan mereka.

“Alasan pekerjaan dan sumber penghasilan merupakan alasan yang menyebabkan tidak mudah menyuruh masyarakat untuk mengungsi dalam kurun waktu yang lama,” tuturnya.

Ciri-ciri daerah yang rawan longsor adalah daerah berbukit dengan kelerengan lebih dari 20 derajat dengan lapisan tanah tebal di atas lereng, terutama bila terdapat retakan tapal kuda pada bagian atas tebing. Sistem tata air dan tata guna lahan yang kurang baik dengan lereng terbuka dan gundul juga merupakan ciri daerah yang rawan longsor.

Masyarakat juga harus waspada bila menemukan banyak mata air atau rembesan air pada tebing, apalagi bisa disertai dengan longsoran-longsoran kecil dan aliran sungai di dasar lereng. Pemotongan tebing untuk pembangunan rumah dan jalan juga dapat menjadi penyebab kejadian longsor.

Namun, bukan berarti tidak bisa dicegah, setidaknya mengurangi kemungkinan kejadian longsor. Retakan-retakan yang ada di atas tebing, yang merupakan tanda akan terjadi longsor, dapat ditutup menggunakan lempung. Longsor juga dapat dicegah dengan menanami lereng dengan tanaman dan memperbaiki tata air dan tata guna lahan.

Biasanya, longsor terjadi akibat tinggi muka air tanah yang meningkat pada saat musim penghujan. Karena itu, masyarakat di wilayah rawan longsor perlu waspada bila terjadi hujan dengan curah tinggi dalam waktu yang lama.

“Kenaikan tinggi muka air tanah sebenarnya bisa diantisipasi dengan mengalirkan air ke bawah lereng. Namun, perlu biaya mahal. Saat ini BNPB bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada mengupayakan hal itu di beberapa tempat,” katanya.

Teknologi LIPI Dua peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah berhasil mengembangkan teknologi untuk mendeteksi pergerakan tanah yang kemungkinan bisa menyebabkan longsor dan mencegah tanah longsor.

“Tujuan dari pengembangan ini adalah menyediakan teknologi pemantauan gerakan tanah yang lebih efektif dan andal dalam memantau dan memberikan peringatan dini dari ancaman berbagai jenis gerakan tanag di daerah yang luas,” kata Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Adrin Tohari.

Teknologi tersebut dinamakan LIPI “Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring” (LIPI Wiseland) dan Teknologi Mitigasi Longsor Berbasis Drainase Siphon (The Greatest). Dua teknologi itu dikembangkan oleh Adrin bersama Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Suryadi.

Sensor nirkabel LIPI Wiseland terdiri atas empat elemen, yaitu ekstensometer, tiltmeter, sensor modul dan pengukur hujan. Selain itu, teknologi tersebut juga dilengkapi dengan “gateway” dan alarm serta “web monitoring”.

“LIPI Wiseland dapat mendeteksi pergerakan tanah, perbedaan kemiringan lereng dan tinggi muka air tanah untuk memperkirakan kemungkinan tanah longsor,” kata Suryadi.

LIPI Wiseland saat ini sudah dikembangkan hingga generasi ketiga dan telah diuji coba di beberapa lokasi, yaitu Pangalengan dan Jalan Tol Cipularang. Teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan jembatan dan telah diuji coba di Jembatan Cisomang, Tol Cipularang.

Sedangkan The Greatest adalah metode rekayasa drainase bawah permukaan untuk menurunkan muka air tanah. Salah satu penyebab tanah longsor dalam adalah kenaikan muka air tanah yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

The Greatest menggunakan motode yang sama dengan pipa siphon atau pipa pindah, yaitu sebuah alat untuk memindahkan cairan dari sebuah wadah yang tidak dapat direbahkan. Contohnya memindahkan bensin dari tanki motor ke dalam jerigen.

Prinsip kerja The Greatest adalah mengisap air tanah berdasarkan perbedaan ketinggian muka air tanah. Komponen yang diperlukan adalah sumur siphon, selang siphon dan “flushing unit”.

Alat khusus yang dikembangkan peneliti LIPI itu hanya ‘flushing unit’ yang berfungsi untuk memompa air yang dialirkan dari sumur siphon melalui selang siphon. Alat ini bekerja berdasarkan tekanan air sehingga tidak perlu menggunakan listrik.

The Greatest sudah diuji coba di laboratorium maupun di lapangan. Kesimpulan uji coba laboratorium menyatakan semakin banyak jumlah sumur siphon, semakin rendah muka air tanah dan semakin kecil luas zona rembesan maka akan semakin tinggi kestabilan lereng. Uji coba lapangan dilakukan di Lereng Cibitung, Pangalengan yang berhasil menurunkan muka air tanah secara signifikan pada beberapa sumur siphon yang memiliki muka air tanah awal dangkal.

Adrin dan Suryadi berharap dua hasil penelitian LIPI tersebut dapat diterapkan secara masal untuk mencegah tanah longsor yang ada di Indonesia.

“Sudah ada dua pihak yang ingin bekerja sama menggunakan dan mengembangkan penelitian ini. Satu perusahaan swasta di bidang energi dan PT Kereta Api Indonesia yang sudah menyatakan minatnya menggunakan teknologi ini,” kata Adrin. (Dewanto Samodro)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s