Survei Kawasan Sagu di Kampung Sima

Dalam konteks masyarakat Papua, sagu merupakan tanaman yang sangat dijaga dan dilestarikan hingga pada zaman nenek moyang mereka. Namun seiring waktu, sagu sudah mulai terlupakan dan sebagian masyarakat setempat sudah tidak melestarikan tumbuhan sagu seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka terdahulu.

Dan tak dapat disangkal bahwa sagu bagi masyarakat Papua merupakan makanan khas dan sebagai penopang hidup mereka, baik sebagai sumber makanan maupun penghasilan uang. Namun dibalik itu semua ada 2 manfaat penting dari tanaman ini, yaitu bahwa pohon sagu (daun) merupakan penghasil oksigen terbesar dibandingkan dengan tumbuhan lainnya. Selanjutnya adalah bahwa sagu memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.

“Hasil riset/penelitian bahwa keunggulan pohon sagu jika pohon tersebut ditanam seluas 200 Ha maka ia mampu menghidupi se-Asia” (Hari Wijaya, 2010). Sebagai contoh, sagu sudah banyak digunakan oleh Negara-negara maju yaitu, pati sagu dapat diolah menjadi bahan industry pangan, korteks/batang sagu diolah menjadi industry kertas, ampas sagu diolah menjadi campuran pakan ternak, campuran briket arang, campuran papan partikel, media jamur, dari pohon sagu dapat membuat tripleks, tekstil, bahan kimia, asam organic, fruktosa, etanol sebagai bahan pokok energy dan lain sebagainya.

Itu sebabnya pohon sagu memiliki nilai ekonomi dan manfaat yang tinggi. Jadi tidak heran jika masyarakat Papua menganggap sagu sebagai kunci kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu banyak kalangan dan pihak manapun yang berupaya untuk bersama-sama melestarikannya, tak terkecuali perusahaan swasta yang ada di daerah tersebut. Mengingat pentingnya sagu dan merupakan tanaman khas dari tanah Papua, mereka tergerak untuk melestarikan dan menjaganya bersama-sama.

Seperti yang dilakukan oleh PT. Nabire Baru ini misalnya, pada tahun sebelumnya (2016) mereka telah melakukan survei kawasan sagu di Kampung Sima. Kegiatan diawali dengan melakukan Rapat Koordinasi Pemetan Kawasan Sagu di Kampung Sima pada tanggal 20 Februari 2016. Rapat koordinasi dihadiri oleh Ketua Koperasi Suku Akaba Bapak Elly Yarawobi, Tokoh Masyarakat Kampung Sima Bapak Agus Rumatarai, Tokoh Gereja Kampung Sima Bapak Yohanes Raraawi dan Marten Yoweni, GPS Assisten Bapak Haposander Gorat, Humas Manager Bapak FX. Joko Rudigdo, CSR serta tim survey.

Selanjutnya, barulah diadakan survey tanaman sagu. Kegiatan Survey Tanaman Sagu dilaksanakan pada tanggal 22 s/d 25 Februari 2016. Tim Survey terdiri dari Perwakilan Masyarakat 10 orang, Petugas Survey GPS PT. Nabire Baru, serta tenaga perintis dengan jumlah total sebanyak 30 orang personil yang terbagi beberapa team dengan jumlah anggota masing-masing kelompok 4 – 6 orang.

Selanjutnya dari kegiatan tersebut dihasilkan beberapa point penting untuk melakukan kegiatan tindak lanjut yang serupa seperti :
1.    Rapat koordinasi evaluasi kawasan dusun sagu.
2.    Sosialisasi kawasan kepada tokoh masyarakat, tokoh pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama tentang peta lokasi kawasan sagu dan usaha-usaha perlindungannya.
3.    Pembentukan kelompok konservasi tanaman sagu Kampung Sima.
4.    Program penghijauan (kerjasama BLH Kab. Nabire), Program penanaman sagu di kawasan konservasi.
5.    Program penelitian dengan melibatkan mahasiswa perguruan tinggi dan program pemanfaatan tanaman sagu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s